Langsung ke konten utama

Burnout dan Ketenangan Jiwa

Beberapa hari ini saya merasakan keadaan yang tidak seperti biasanya. Urusan kampus yang menumpuk saya bisa selesaikan, pekerjaan rumah pun. Tapi entah mengapa suasana hati saya tidak setenang biasanya.
Apa yang terjadi membuat saya berpikir, bahwa ternyata setiap orang akan menghadapi kondisi melelahkan, dimana dia pun tidak mengerti mengapa dia lelah.
Agak aneh memang. Tapi itu adalah hal yang benar. 

Saya menyadari satu hal. Saya tahu saya lelah, akan tetapi saya berpikir bahwa saya harus lelah agar tetap bahagia. Saya tidak peduli dengan kondisi fisik dan mental saya yang sebenarnya sudah mulai menurun. Hal ini ternyata terjadi pada sebagian besar orang. Laki-laki maupun perempuan. Muncul pertanyaan dalam diri saya:
Mengapa kita cenderung sering memaksakan diri meskipun lelah? Apa sebenarnya alasan utama dari tindakan kita tersebut?

Menurut saya pribadi berdasarkan apa yang saya alami, sikap memaksakan diri ini timbul karena adanya perasaan bersalah. Yah merasa bersalah. 

Kebanyakan orang dewasa saat ini bergantung pada suatu hal yang membuatnya merasa nyaman. Mereka terlalu takut untuk keluar dari zona tersebut meskipun kadang hal yang membuat nyaman tersebut sudah melelahkan secara fisik maupun mental. 
Memangnya ada hal yang membuat nyaman sekaligus melelahkan?
Tentu ada.

Ada orang yang memilih bertahan dengan profesinya karena merasa nyaman sudah lama bekerja di tempat itu dan bisa mendapat penghasilan yang cukup. Padahal sebenarnya, dia sudah merasa burnout. Tapi dia tetap memaksakan diri karena ada yang dia pertaruhkan disana, yaitu kenyamanan.

Kita pun bisa mengaitkan ini dengan percintaan. Seseorang terkadang memilih untuk tidak putus dengan pasangannya hanya karena sudah bertahun-tahun berpacaran. Padahal kenyataannya hubungan mereka sudah toxic dan tidak layak lagi dipertahankan.

Hal-hal diatas hanyalah sebagian kecil yang bisa saya beri contoh.
Yang perlu kita garis bawahi adalah burnout itu sendiri. Dilansir dari artikelnya, menteri keuangan republik Indonesia memaparkan bahwa, Burnout dalam istilah psikologi digambarkan sebagai sebuah kondisi keletihan mental atau kelelahan dalam bekerja, kadang kala dibarengi dengan perasaan kegagalan dan kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebani pikiran dan tenaga bahkan kemampuan seseorang. Seperti istilah sekarang yang lazim terdengar saat seseorang sudah overload.

Setiap orang dapat merasakan  burnout tanpa terkecuali. Harusnya kita bisa lebih terbuka dalam menghadapi permasalahan ini. 
Kita harus menerima bahwa akan ada saat dimana kita memang harus beristirahat. Meskipun hanya sejenak untuk sekadar menenangkan pikiran kita. Mencoba menjauh dari keramaian sebentar saja pun sudah cukup. Kita butuh waktu untuk diri kita sendiri. Yah hanya kamu. Hanya aku.
Apakah boleh?
Tentu saja. Hanya pribadi kita sendiri yang bisa menentukan yang tebaik bagi kita. Bukan keluarga, pacar, ataupun teman. Hanya kamu seorang.

Kamu bisa mulai dengan tidak lagi memaksakan dirimu melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Tidak perlu merasa "bisa" menyelesaikan banyak hal. Mulai melakukan hal-hal kecil yang kamu sukai. Jika lelah silahkan beristirahat.
Tidak apa-apa merasa stres atau burnout sesekali. Tapi jangan berlarut-larut. Kita harus bisa mengelola stres dalam diri kita. Karena itu untuk kebaikan kita sendiri.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK HARAM

Itu sebutan bagi mereka yang terlahir berbeda. Tidak Dari sebuah keluarga kecil harmonis yang sah di depan negara bahkan Tuhan. Disematkan bagi mereka yang lahir di luar pernikahan. Bentuk penghinaan paling pahit yang harus diterima bayi mungil yang bahkan belum tahu apa-apa. Itu diriku. Mungkin juga kalian. Kita tumbuh tanpa tahu bahwa ternyata kita menjadi aib. Aib yang bahkan tidak bisa lagi disembunyikan. Mirisnya, anak sekecil itu mengerti apa? Kita hanya tersenyum bahkan ketika sekeliling berbisik-bisik, bertanya tentang latar belakang rumit kita. Latar belakang yang ternyata bisa sesulit itu untuk dijelaskan saat dewasa. Itu diriku. Mungkin juga kalian. Ada karena dua insan yang seharusnya tidak pernah bersama --kata Agama dan negara-- karena perbedaan keyakinan. Dipisahkan oleh dualisme, ego, dan ketakutan. Janji bersama bahkan tidak dapat bertanggung jawab. Itu diriku. Mungkin juga kalian. Syukur karena berada di rahim seorang malaikat. Malaikat berwujud manusia. D...

LAUT BERCERITA DALAM SUDUT PANDANGKU

Sejak tahun 2023 saya mulai mengetahui satu buku dengan judul "Laut Bercerita" dari media sosial. Awalnya saya cukup skeptis untuk membacanya karena punya asumsi ini hanya sebuah buku fiksi sejarah membosankan yang tidak menarik. Namun, tahun 2024, genre bacaan saya mulai berubah, dari yang tadinya fokus pada buku-buku pengembangan diri menjadi novel-novel fiksi, salah satunya fiksi sejarah. Saya membaca beberapa buku karya Tere Liye dan mulai mendapat persepsi baru. Sampai akhirnya, saya berpapasan lagi dengan buku karya Leila S, Chudori yang direview di tiktok. Saya jadi penasaran. Mulai timbul pertanyaan, memangnya sebagus itu yah? Kok ada yang sampai menangis membaca buku ini? Akhirnya, tahun 2025, saya berkesempatan untuk membaca Laut Bercerita. Seorang Senior membantu saya untuk mewujudkan wishlist buku ini, dan yah beberapa hari lalu buku itu sudah di tangan saya, dan hari ini saya baru menyelesaikan halaman terakhir dari novel ini. Awal membaca, jujur saya terkejut ka...

11 Cara Belajar Efektif ala Maudy Ayunda saat Kuliah di Oxford University

1. Memahami konsep     Ingat belajar itu bukan menghafal  tetapi memahami konsep dari inti  materinya. 2.Fokus pada materi yang belum      dipahami agar tidak menghabiskan banyak waktu. 3.Menulis pelajaran dengan bahasa kita sendiri. 4.Baca kembali catatan yang telah dibuat untuk menguatkan ingatan di otak. 5.Membaca dengan metode skimming dan scanning.Scanning digunakan ketika ingin mencari tahu inti dari keseluruhan bacaan,  sedangkan untuk metode skimming bisa digunakan ketika kalian ingin mencari tahu sesuatu secara spesifik dari sebuah bacaan. 6.Ingat belajar bukan untuk ujian doang.  7.Coba koreksi ulangan atau ujian yang sudah dinilai.  8.Adaptif dan fleksibel sama lingkungan kalian 9.Sering-sering main ke perpustakaan.  10.Sering-sering ikut kuliah umum atau seminar.  11.Jangan lupa terapkan studi lifeless ambis dan fokus belajar,  boleh tapi jangan lupa luangkan waktu untuk bersenang-senang ya See you ...