Sejak tahun 2023 saya mulai mengetahui satu buku dengan judul "Laut Bercerita" dari media sosial. Awalnya saya cukup skeptis untuk membacanya karena punya asumsi ini hanya sebuah buku fiksi sejarah membosankan yang tidak menarik. Namun, tahun 2024, genre bacaan saya mulai berubah, dari yang tadinya fokus pada buku-buku pengembangan diri menjadi novel-novel fiksi, salah satunya fiksi sejarah.
Saya membaca beberapa buku karya Tere Liye dan mulai mendapat persepsi baru. Sampai akhirnya, saya berpapasan lagi dengan buku karya Leila S, Chudori yang direview di tiktok. Saya jadi penasaran. Mulai timbul pertanyaan, memangnya sebagus itu yah? Kok ada yang sampai menangis membaca buku ini?
Akhirnya, tahun 2025, saya berkesempatan untuk membaca Laut Bercerita. Seorang Senior membantu saya untuk mewujudkan wishlist buku ini, dan yah beberapa hari lalu buku itu sudah di tangan saya, dan hari ini saya baru menyelesaikan halaman terakhir dari novel ini.
Awal membaca, jujur saya terkejut karena penulis, Leila S. Chudori, menuliskan hal-hal ekstrim dengan cukup detail, dan jarang saya temukan di novel-novel yang sudah saya garap. Dari sini saya langsung berpikir bahwa novel ini akan lebih deep jika saya lanjut membaca.
Novel ini berlatarkan rezim pemerintahan pada tahun 1998 yang juga diselingi dengan alur mundur kehidupan para tokohnya di tahun 1991. Novel ini terbagi menjadi dua sudut pandang, yaitu sudut pandang tokoh utama, Biru Laut, dan sudut pandang adiknya Asmara Jati. Secara garis besar, novel ini menceritakan bagaimana perjuangan para mahasiswa dan mahasiswi aktivis yang ingin memperbaiki pemerintahan Indonesia yang sangat otoriter saat itu.
Leila Chudori sangat hebat dalam meramu karakter para tokoh, khususnya Laut, sehingga saya sebagai pembaca bisa langsung masuk pada alur cerita dan memahami para tokohnya. Tokoh favorit saya adalah Biru Laut tentunya, dan tiga perempuan yang Laut kagumi dalam hidupnya, yaitu Kinan, Anjani, dan Adiknya Asmara. Ketiganya punya karakter yang kuat dan pemberani sebagai seorang perempuan meskipun mereka dikelilingi kaum lelaki dalam keseharian mereka.
Setiap bab dari novel ini selalu punya adegan yang sangat membekas dan menyentuh. Momen penyekapan Laut bersama kawan-kawan sesama aktivis adalah hal yang mungkin hanya ingin saya saksikan di buku ini sekali saja. Terlalu menyakitkan. Ada satu plot wist yang buat saya marah dan kecewa, seolah ikut merasakan apa yang dirasakan Laut dan kawan-kawannya saat itu. Saya ingin bercerita, tapi tidak mau spoiler. Jadi harus langsung baca. Novel ini juga tidak melulu hanya soal dunia aktivis, tapi diselingi dengan kisah cinta sederhana namun mendalam dari beberapa tokohnya.
Saya bukan mahasiswi yang berlatar belakang hukum dan politik ataupun yang berhubungan dengan pemerintahan, karena itu ada saat di mana saya kurang bisa memahami buku dengan tema sejarah. Tapi, Laut Bercerita disajikan dengan sangat apik dan apa adanya, yang juga dilengkapi dengan bahasa puitis yang diramu sedemikian rupa oleh Leila S. Chudori. Saya lebih mudah memahami maksud dari karakter maupun kalimat demi kalimat yang ada di novel ini.
Ketika saya menutup halaman terakhir dari novel ini, saya menangis. Saya tidak menyangka bisa menyelesaikan sebuah buku yang begitu sentimental dan penuh historis. Novel yang diangkat dari kisah nyata peristiwa 1998 ini membuka mata, betapa kelamnya sejarah kita. Penghilangan nyawa para aktivis dan orang-órang yang sebenarnya memperjuangkan keadilan saat itu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana relung keluarga, orangtua, saudara yang ditinggalkan saat itu, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan anak dan saudara mereka. Apakah mereka baik-baik saja, atau mungkin sudah berpulang pada Yang Esa?
Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca anak muda masa kini. Bukan hanya para mahasiswa, tapi semuanya. Kita hidup di tempat yang sama, dan keadilan adalah milik kita bersama. Mari berjuang dengan cara kita masing-masing, sesuai dengan bidang kita dan mungkin, apa yang kita minati. Sama seperti Biru Laut. Dia memulai dengan membaca, menulis, dan berkorban.


Komentar
Posting Komentar