"Sebaik apapun dirimu, kamu akan tetap menjadi antagonis di cerita hidup Orang Lain"
Kutipan ini saya susun berdasarkan pengalaman pribadi juga pengalaman orang lain. Ini merupakan kutipan yang menurut saya pribadi sangat related dengan kehidupan kita di dunia.
Semua orang punya sisi baik dan juga sisi buruknya masing-masing. Entah itu mereka tunjukkan atau tidak. Dalam sebuah cerita novel pun, pasti selalu ada tokoh protagonis (baik) dan juga antagonis (jahat). Antagonis ada untuk membuat si protagonis terlihat baik.Protagonis ada untuk membuat antagonis terlihat buruk. Apa sesederhana itu?
Kadang kita selalu memandang sebelah mata, bahkan cenderung membenci para antagonis dalam suatu kisah, entah lewat cerita yang kita baca atau tonton. Karena semua antagonis selalu menjadi sumber masalah dalam cerita. Mereka sering membuat para protagonis kesulitan dengan sikap mereka.
Akan tetapi, selama ini kita tidak pernah mencari tahu siapa sebenarnya antagonis ini? Apakah dia benar-benar memiliki sifat tersebut?
Karena, tidak semua antagonis adalah jahat. Mereka menjadi antagonis karena situasi dan kondisi yang membuat mereka seperti itu.
Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
Karena antagonis pun, punya kisah hidup mereka sendiri. Mereka yang nampak jahat di mata kita, belum tentu jahat bagi diri mereka sendiri, ataupun keluarga mereka. Kadang mereka terpaksa menjadi antagonis, untuk alasan yang hanya bisa dimengerti oleh dia sendiri.
Mau sebaik apapun kita, kita akan tetap menjadi antagonis dalam kisah hidup orang lain. Mengapa? Semua orang punya keinginan untuk mendapat validasi ataupun juga pengakuan dari orang lain. Salah satu cara adalah dengan menunjukkan diri sebagai orang yang baik. Untuk bisa terlihat baik, kadang butuh pengorbanan. Salah satunya adalah orang lain. Kadang kita tidak peduli, mereka sudah sebaik apa dalam hidup kita, tapi kita mengorbankan mereka, entah dengan cara merendahkan mereka, agar kita terlihat lebih tinggi, sehingga orang-orang lebih suka terhadap kita. Yang menakutkan, kita kadang tidak sadar dengan perbuatan tersebut. Karena apa, mereka yang sudah dicap sebagai orang baik, akan lebih mudah mendapat kepercayaan, sedangkan yang terlanjur dicap jahat, akan mendapat stigma buruk.
Antagonis, maupun protagonis, punya kisah hidup masing-masing. Dan sebenarnya tidak ada satupun antagonis jika hal itu ditunjukkan pada diri sendiri. Karena semua orang ingin melakukan yang terbaik bagi dirinya sendiri.
Hanya saja, tidak dapat dipungkiri, di dunia ini, akan selalu saja ada orang-orang yang memang tidak memiliki rasa simpati dan empati bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Itu urusan mereka. Kita yang masih memiliki kesadaran diri, harusnya bisa mengontrol segala sesuatu yang kita lakukan, dan jangan pernah menjatuhkan orang lain demi diri kita sendiri.

Komentar
Posting Komentar