Beberapa saat lalu saya baru saja menonton sebuah postingan di Instagram. Seorang penjual memukul seorang Ibu Tua karena mencuri dagangan (berdasarkan keterangan di video). Terlepas Dari kesalahan yang dibuat, memang tidak bisa dibenarkan jika membela si Ibu. Tetapi, sisi manusiaku menjerit meminta agar tindakan itu tidak dilakukan. Emosi negatif bisa membawa pada sebuah tindakan menyeramkan yang menyakitkan secara fisik maupun verbal. Ini membawaku pada sebuah refleksi sederhana yang aneh. Bagaimana jika Sang Khalik berlaku sama seperti si pria? Insan berlaku cela, Dan langsung mendapatkan hukuman tanpa pembelaan apapun. Maka, semua manusia akan berakhir dalam penderitaan panjang Dan rasa malu. Tidak peduli tua atau muda. Tetapi Sang Khalik tidak seperti insan-insan fana. DIA penuh dengan apa yang kita sebut Kasih. Kasih itu melampaui semua kesalahan. Tidak menghakimi, tidak bertindak kasar, Dan selalu memaafkan. Mungkinkah kami yang fana ini mampu melakukann...
Itu sebutan bagi mereka yang terlahir berbeda. Tidak Dari sebuah keluarga kecil harmonis yang sah di depan negara bahkan Tuhan. Disematkan bagi mereka yang lahir di luar pernikahan. Bentuk penghinaan paling pahit yang harus diterima bayi mungil yang bahkan belum tahu apa-apa. Itu diriku. Mungkin juga kalian. Kita tumbuh tanpa tahu bahwa ternyata kita menjadi aib. Aib yang bahkan tidak bisa lagi disembunyikan. Mirisnya, anak sekecil itu mengerti apa? Kita hanya tersenyum bahkan ketika sekeliling berbisik-bisik, bertanya tentang latar belakang rumit kita. Latar belakang yang ternyata bisa sesulit itu untuk dijelaskan saat dewasa. Itu diriku. Mungkin juga kalian. Ada karena dua insan yang seharusnya tidak pernah bersama --kata Agama dan negara-- karena perbedaan keyakinan. Dipisahkan oleh dualisme, ego, dan ketakutan. Janji bersama bahkan tidak dapat bertanggung jawab. Itu diriku. Mungkin juga kalian. Syukur karena berada di rahim seorang malaikat. Malaikat berwujud manusia. D...